rangkuman ide yang tercecer

Rabu, 08 Agustus 2012

Fenomena Patortor Parmunaen pada Batak-Toba


(Unang Niboniagahon Adat)  
Oleh : Thomson Hutasoit.
Bagian Pertama.
Pendahuluan.

Adat budaya  suku atau bangsa merupakan suatu tradisi yang dilakukan terus-menerus serta diyakini merupakan kebenaran komunal, dipermanenkan menjadi aturan (baca:adat) mengikat bagi setiap elemen komunitas tersebut. 

Adat Batak-Toba dikenal tiga jenis yakni; adat didasarkan pada akar adat (baca: adat sian urat ni adat), adat yang diresmikan atau disahkan berdasarkan daerah setempat (baca: adat na ni adathon), serta adat berdasarkan situasi tertentu (baca: adat na taradat).

Sehingga Batak-Toba mengenal tiga jenis atau macam adat yakni; adat sian urat ni adat, adat na niadathon, dan adat na taradat.

Pada awalnya bahwa “Patortor Parumaen” bukanlah suatu adat berdasarkan urat ni adat, tetapi “Patortor Parumaen” pada era belakangan ini sudah menjadi salah satu jenis adat, dan penulis belum tahu secara pasti kapan “Patortor Parumaen” dijadikan menjadi salah satu jenis ulaon adat, serta dimulai dari daerah mana.

Akan tetapi menurut pengamatan penulis “Patortor Parumaen” telah dilangsungkan di beberapa tempat, baik perantauan maupun di bona pasogit. 

Patortor Parumaen adalah salah satu jenis ulaon adat na niadathon yakni suatu adat yang dulunya tidak ada, serta dilakukan pada daerah-daerah tertentu.

Karena “Patortor Parumaen” pada dasarnya bukan merupakan adat sian urat ni adat maka sering terjadi perbedaan persepsi diantara pihak-pihak terkait dengan hajatan (baca: hasuhuton) yakni; hasuhuton paranak maupun hasuhuton parboru dalam suatu acara pesta perkawinan. 

Dan tidak mustahil menjadi cikal bakal keretakan hubungan harmoni kekeluargaan dan kekerabatan (baca: na martondong) di belakang hari.

Apalagi jika masing-masing pihak mempertahankan adatnya sesuai dengan adat setempat maka hampir dapat dipastikan acara “Patortor Parumaen” akan berpotensi menimbulkan ketidakharmonisan kekeluargaan (baca: na martondong). 

Fenomena “Patortor Parumaen” sepertinya semakin melebar dan meluas sehingga perlu dilakukan pembahasan lebih mendalam untuk menjernihkan arti dan makna “Patortor Parumaen”. 

Apakah murni berkaitan adat budaya atau sebaliknya sebuah upaya terselubung memperoleh uang dengan tameng “Patortor Parumaen”. 

Sebab berbagai pihak yang melaksanakan “Partortor Parumaen” telah dijadikan kalkulasi sumber penerimaan pesta adat perkawinan (baca: marboniagahon adat). 

Menjadikan “Patortor Parumaen” sebagai sumber penerimaan atau pemasukan dana pesta perkawinan telah menggeser arti dan makna hakiki ulaon adat Batak-Toba dari perhelatan adat budaya menjadi ajang kalkulasi untung rugi (bisnis) hampa arti dan makna adat budaya yang pada ujung-ujungnya akan mendegradasi adat budaya Batak-Toba dikemudian hari. 

Dari pengamatan penulis tentang “Patortor Parumaen” ada beberapa hal yang perlu dicermati dengan seksama antara lain:

Patortor Parumaen merusak logika adat. 

Ulaon marunjuk/mangadati atau pasahat sulang-sulang ni pahompu huhut manggarar  adat na gok menurut hukum adat adalah membayar hutang (baca: manggarar utang) adat dari pihak paranak kepada pihak parboru karena telah mempersunting (baca: mangalap/mangoli) anak perempuan (baca: boru) keluarga perempuan (baca: parboru).

Karena manggarar utang maka pihak paranak lah memberikan sejumlah mahar (baca: sinamot, boli, tuhor) kepada pihak parboru. 

Selanjutnya, setelah pihak paranak manggarar utang adat kepada pihak parboru maka pihak parboru akan memberikan kewajiban adat kepada pihak paranak sesuai ketentuan adat Batak-Toba. 

Sebab prinsip manggarar adat adalah mangalehon dohot manjalo.

Artinya, bukan hanya memberi tetapi juga menerima sesuai ketentuan adat Batak-Toba.

Pengertian mangalehon adalah menyerahkan sejumlah mahar (baca: sinamot, tuhor, boli) menantu (baca: parumaen) oleh pihak paranak kepada pihak parboru, termasuk pesta perkawinan (baca: marunjuk/mangadati atau pasahat sulang-sulang ni pahompu huhut manggarar adat na gok) serta panandaion kepada sanak saudara, keluarga maupun kerabat pihak parboru. 

Selanjutnya, pihak parboru memberikan ulos passamot, ulos hela dan ulos suhi ni ampang na opat serta ulos holong kepada pihak paranak beserta keluarga dan kerabat.

Artinya, bahwa setelah pihak paranak menunaikan kewajiban adat kepada pihak parboru barulah pihak parboru menunaikan kewajiban adat kepada pihak paranak. 

Hal itulah logika adat Batak-Toba pada ulaon adat marunjuk/mangadati ataupun pasahat sulang-sulang ni pahompu huhut manggarar adat na gok.

Tetapi pada era belakangan ini ketika “Patortor Parumaen” dilakukan logika adat demikian telah dirusak karena begitu selesai pemberkatan (baca: pamasu-masuon) di gereja maka pihak paranak melakukan “Patortor Parumaen” sebelum ulaon adat marunjuk/magadati atau pasahat sulang-sulang ni pahompu huhut manggarar adat na gok kepada pihak parboru. 

Pihak paranak meminta kepada pihak parboru untuk manabe-nabei pengantin dan keluarga pihak paranak, selanjutnya pihak parboru manortor sekaligus memberikan sejumlah uang kepada boru dan helanya bahkan mertua borunya yang disebut marmeme. 

Pemberian ulos sabe-sabe, marmeme dari pihak parboru  kepada pihak paranak sebelum ulaon adat marunjuk/mangadati ataupun pasahat sulang-sulang ni pahompu huhut manggarar adat na gok sangat merusak logika adat Batak-Toba karena tidak sesuai dengan prinsip mengelehon dohot manjalo. 

Apakah benar pihak parboru memberi ulos sabe-sabe sedangkan ulos passamot, ulos hela dan ulos suhi ni ampang na opat belum diberikan kepada pihak paranak.

Demikian juga marmeme terasa kurang tepat sebab mahar (baca: sinamot, boli/tuhor) borunya belum diterima penuh sudah harus memberikan uang kepada si pengantin walau direkayasa dengan bahasa adat yakni marmeme.

Pemakian istilah marmeme juga amat janggal, menggelikan  serta menyalahi logika adat sebab sungguh keliru marmeme orang yang belum dikenal secara adat.

Ada ungkapan Batak-Toba tidak boleh dilupakan yakni; Ndang jadi marsomba sonduk ni parboru tu paranak”. 

Artinya, sebelum kewajiban adat (baca: mangalehon) dari pihak paranak kepada pihak parboru dilaksanakan tidak lah tepat menerima (baca: manjalo) adat dari pihak parboru.

Pemberkatan perkawinan (baca: pamasu-masuon parrumatanggaon) di gereja harus dipahami bukanlah ulaon adat marunjuk/mangadati/ pasahat sulang-sulang ni pahompu huhut manggarar adat na gok.

Sehingga “Patortor Parumaen” adalah merusak logika adat serta suatu kekeliruan yang harus segera diluruskan agar tidak menjadi tradisi keliru dalam pelestarian adat budaya Batak-Toba dikemudian hari. 

Apakah pantas dan wajar memberikan ulos sabe-sabe kepada pihak paranak sebelum memberikan ulos passamot, ulos hela, ulos suhi ni ampang na opat ? 

Apakah tidak keliru bila pihak parboru marmeme pihak paranak yang belum dikenal (baca: na so tinandana) ? 

Bukankah pihak parboru belum mengenal  pihak paranak secara adat sebelum manggarar adat na gok sesuai ketentuan adat Batak-Toba ?. 

Perlu disadari bahwa pemberian panandaion dari pihak paranak kepada pihak parboru menunjukkan barulah setelah ulaon adat marunjuk/mangadati/ pasahat sulang-sulang ni pahompu huhut manggarar adat na gok mengenal keluarga dan kerabat pihak parboru sehingga pasahat panandaion bahagian tak terpisahkan dari prosesi adat Batak-Toba.

Artinya, sejak pemberian panandaion itu lah secara adat pihak paranak mengenal pihak parboru. 

Sehingga amat aneh bin ajaib apabila pihak parboru marmeme pihak paranak yang belum dikenal secara adat.

Kerusakan nilai-nilai luhur adat budaya ditandai tindakan inkonsisten (baca: sigoje-goje, marnida lomak ni imbulu) sehingga menjadikan “Patortor Parumaen” sebagai adat baru atas dasar kebiasaan daerah tertentu (baca: adat na niadathon) tanpa dilandasi logika adat sungguh sangat tidak tepat serta berpotensi menimbulkan hal-hal negatif.

Misalnya, takut datang ke pesta perkawinan karena malu bila tidak bisa ikut marmeme ketika Patortor Parumaen.  

Adat adalah aturan berlaku universal pada suatu komunitas suku atau bangsa sehingga harus mampu membawa kebahagiaan seperti ungkapan mengatakan ” Sinuan bulu sibahen na las, Sinuan partuturan sibahen na horas” sehingga tidak perlu digunakan “Ijuk di para-para hotang di parlabian, na bisuk nampuna hata na oto tu pargadisan”. 

Artinya, jangan merekayasa simbol-simbol adat demi memenuhi maksud-maksud tertentu (baca: mangahut hepeng) yang pada ujung-ujungnya merusak makna sejati adat.  
   
Patortor Parumaen motif cari uang. 
    
Bila diamati dengan cermat bahwa “Patortor Parumaen” merupakan strategi cari uang daripada bermakna adat budaya sebab makna “Patortor Parumaen” tidak memiliki landasan adat yang kuat. 

Ulaon adat marunjuk/mangadati/ pasahat sulang-sulang ni pahompu huhut manggarar adat na gok adalah menunaikan kewajiban adat (manggarar utang) sehingga tidak memiliki logika bila ulaon adat marunjuk/mangadati/ pasahat sulang-sulang ni pahompu huhut manggarar adat na gok dikomersialisasikan (baca: ditiga-tigahon) atau dijadikan ajang cari duit (baca: mangahut sinamot) dari pihak lain. 

Sebab ulaon adat bukan hitungan untung rugi secara finansial ataupun bisnis melainkan adat budaya bernilai sakral (baca: ulaon na marsintuhu). 
  
Meminta bantuan atau partisipasi (baca: mangido panumpahion, pangurupion) pada suatu ulaon adat Batak-Toba biasanya berasal dari na mardongan tubu, dongan sahuta, boru, bere, pariban, ale-ale yang dilaksanakan sebelum atau ketika pesta perkawinan dilangsungkan yang disebut panumpahion. 

Biasanya, panumpahion keluarga dan kerabat dekat (baca: paidua ni hasuhuton dohot sisolhot) dilaksanakan sebelum pelaksanaan ulaon adat yang disebut musyawarah keluarga (baca: tonggo saripe). 

Dan ketika tonggo saripe itulah yang punya hajatan (baca: hasuhuton) menyamakan persepsi (baca: pa dos tahi) mengatur  partording ni parjambaran sesuai tata hirarkhi silsilah (baca: tarombo) sebab bagi Batak-Toba parjambaran adalah tarombo. 

Sementara keluarga jauh dan handai tolan biasanya memberikan bantuan atau partisipasi (baca: panumpahion) pada saat pesta perkawinan dilangsungkan yang disebut martumpak di alaman.

Oleh sebab itu, sangat mudah mengetahui apakah seseorang merupakan keluarga dekat atau keluarga jauh dari pemberian bantuan atau partisipasinya (baca: Tumpak). 

Bila seseorang memberikan tumpak di alaman maka seseorang itu adalah keluarga jauh maupun handai tolan (sahabat, teman, famili) yang tidak termasuk kategori keluarga dekat (baca: martumpak di jabu). 

Sedangkan apabila seseorang memberikan tumpak di jabu maka seseorang itu merupakan bahagian keluarga dekat (baca: horong sisolhot) hasuhuton. 

Akan tetapi, pasca diterapkannya “Patortor Parumaen” belakangan ini batasan-batasan itu sudah semakin semu sebab kelompok (baca: horong) hula-hula yakni; hula-hula, tulang, bona tulang, bona niari, tulang rorobot, hula-hula na marhaha maranggi, hula-hula parsiat/naposo sudah ikut memberikan bantuan (baca: silehon tumpak) kepada pihak paranak melalui sebutan “marmeme”. 

Dan yang paling tidak masuk akal para undangan hula-hula terpaksa akan merogoh kantong karena malu tidak ikut berpartisipasi waktu acara Patortor Parumaen.  

Patortor Parumaen lebih cenderung bermotif cari uang daripada bermakna nilai-nilai adat budaya murni, bahkan muncul tudingan bahwa “Patortor Parumaen” sama seperti “pengamen” untuk mencari uang menutupi biaya pesta perkawinan.

Bahkan logika paling keliru berkembang belakangan ini bahwa sudah lebih beruntung mengawinkan anak (baca: pangolihon anak) daripada mengawinkan boru (baca: pamulihon boru) sebab dari Patortor Parumaen saja biaya pesta perkawinan telah tertutupi. 

Sementara adat budaya bukan lah kalkulasi untung rugi tetapi hak dan kewajiban adat yang harus dilaksanakan pada saat pesta perkawinan. 

Oleh karena itu, ulaon adat tidak boleh dijadikan ajang bisnis mencari keuntungan dengan menggunakan uang orang lain seperti dikatakan Stephen P. Robbins, PhD  bahwa ”bisnis adalah menggunakan uang orang lain”. 

Membayar hutang (baca: manggarar utang) adat mengharapkan bantuan (baca: tumpak) orang lain, apalagi dari pihak hula-hula sungguh sangat kurang tepat sebab hula-hula lah muara daripada membayar hutang (baca: manggarar utang) adat tersebut. 

Pemutar balikan fakta atas pelaksanaan “Patortor Parumaen” harus segera diluruskan agar tidak menjadi preseden buruk serta mendegradasikan nilai-nilai luhur adat budaya Batak-Toba dikemudian hari. 

Asumsi  pemasukan dana lebih besar dari “Patortor Parumaen” perlu juga dianalisis dengan paripurna sebab tidak tertutup kemungkinan bahwa uang yang diberikan pada saat “marmeme” adalah sebahagian dari tumpak yang seharusnya diberikan.

Artinya, tumpak yang direncanakan semula dibagi untuk “marmeme” dan panumpahion biasa sehingga jumlahnya sama saja. 

Pengamatan penulis sebagai praktisi adat “Patortor Parumen” di Kota Medan tidak pernah dilaksanakan hingga kini. 

Selain kurang abdol juga menimbulkan inefisiensi waktu, serta kerumitan dalam pelaksanaan adat.

Upaya-upaya efisiensi, efektifitas adat semakin diupayakan seperti menyederhanakan panjouon panandaion beberapa kelompok saja. 

Tetapi apabila “Patortor Parumaen” cenderung bermotif cari uang dilegalkan maka akan terjadi paradoksal pelaksanaan ulaon adat. 

Hal itulah yang perlu dipikirkan lebih mendalam agar makna adat budaya tidak melenceng atau menyimpang dari makna hakikinya.
(Bersambung)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.