rangkuman ide yang tercecer

Senin, 30 Juli 2012

Benarkah Hanya Batak Pemilik HOTEL ?


Benarkah Hanya Batak Pemilik HOTEL ?
Oleh : Thomson Hutasoit

Pendahuluan.
Stigma negatif yang selalu dilontarkan di ruang publik adalah Batak, khususnya  Batak-Toba disebut-sebut pemilik HOTEL yakni; Hosom, Teal, Elat, Late, dimana kata-kata itu sadar atau tidak telah menjatuhkan marwah serta karakter luhur Batak di ranah publik. 

Yang paling disayangkan, tudingan bernada miring itu berasal dari orang Batak, khususnya Batak-Toba sendiri sehingga layak disebut “Maneat bibir pataridahon ipon” alias menelanjangi diri sendiri serta mempermalukan komunitas Batak-Toba tanpa landasan kuat. Tindakan demikian sadar atau tidak adalah merupakan tidakan keliru serta tak bertanggung jawab yang sangat disayangkan. Bukankah tindakan mendegradasikan diri sendiri merupakan tindakan bodoh dan konyol ? Akan tetapi, itulah faktanya apalagi sudah banyak orang Batak “merasa”  maju dan terpelajar sehingga sangat mudah membangun dalil-dalil tendensius memojokkan eksistensi Batak, khususnya Batak-Toba ditengah masyarakat, bangsa maupun negara.   
Pelekatan stigma negatif “Hanya Batak Pemilik HOTEL” perlu diwaspadai secara seksama sebab predikat negatif itu tidak mustahil akan dijadikan pihak lain alat justifikasi menjatuhkan karakter moral orang Batak yang berakibat fatal ditengah-tengah masyarakat, bangsa maupun negara. Misalnya, keragu-raguan, kesangsian, serta ketidakpercayaan  mengemban amanah dalam arti seluas-luasnya. Padahal Batak-Toba merupakan salah satu komunitas bangsa di dunia beradat dan beradab. Bahkan tidak terlalu melebih-lebihkan bahwa suku Batak adalah salah satu suku bangsa memiliki peradaban tertinggi di atas jagat raya ini. 

Hal itu bisa dilihat dengan nyata melalui adanya falsafah, adat, budaya, bahasa, aksara, kesenian, alat-alat kesenian, serta ilmu pengetahuan dan teknologi  (Iptek) jauh sebelum zaman millennia ini. Bukankah kebudayaan cerminan peradaban manusia? Dan perbedaan pendidikan antara manusia dengan binatang terutama terletak dalam tujuannya: manusia belajar agar berbudaya sedangkan binatang belajar untuk mempertahankan jenisnya. “Tak pernah ada binatang yang membikin perang” kata Aldous Huxley, ”karena mereka tak mempunyai sesuatu yang dianggap luhur”. Apakah yang lebih luhur lagi bagi seekor harimau selain daging segar dan betinanya ?. “Mungkin saja terdapat genius di antara para gorilla” sambung Aldous Huxley, tetapi karena mereka tidak mempunyai bahasa maka buah pikiran dan penemuan genius itu tidak tercatat dan menghilang begitu saja”. (Jujun S. Suriasumantri, 1982). 

Tudingan bernada miring “Hanya Batak Pemilik HOTEL”  tidak mustahil datang dari oknum-oknum tak bertanggung jawab atau orang tak tahu asal-usul alias Dalle serta memiliki pengetahuan dangkal tentang Batak dan Habatahon sehingga latah melontarkan istilah-istilah tak populer serta tak memiliki landasan kuat. Sebab menurut pemahaman dan analisis penulis sifat-sifat “Hosom, Teal, Elat, Late (HOTEL) dimiliki semua suku di atas bumi ini.  Bukan hanya Batak (Batak-Toba) walaupun dalam bahasa yang berbeda-beda. Sehingga pelekatan stigma negatif seperti itu adalah merupakan “arogansi intelektual” didasari pemahaman dangkal dan keliru yang perlu diuji secara akademik. 

Harus disadari setiap orang bahwa pemberian atau pelekatan predikat, simbol-simbol dengan serampangan akan sangat berbahaya serta berimplikasi luas ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara. Sehingga dituntut kearifan berpikir komprehensif untuk memproteksi ekses-ekses negatif dikemudian hari. Setiap pelabelan akan berimplikasi luas serta sulit dihapus atau dihilangkan apalagi bila label-label negatif itu telah membumi di ranah publik. 
  
Hosom. 

Hosom adalah sifat selalu membenci, dendam terhadap orang lain akibat gesekan ataupun benturan kepentingan satu sama lain. Gesekan atau benturan kepentingan itu menjelma menjadi cikal-bakal saling dendam apalagi tidak bisa diurai dengan tuntas.

 Sifat, sikap demikian tentu saja bukan lah  hanya milik orang Batak-Toba, tetapi seluruh suku bangsa di dunia. Karena itu pula lah leluhur Batak-Toba memberikan solusi penyelesaian gesekan, benturan, perselisihan, permasalahan, persoalan, bahkan konflik melalui “Tuat si puti nangkok si deak, ima na ummuli tu si ma tapareak”. “Purpar pande dorpi tu dimposna do ujungnya, sip parmihim-himin tu rotokna do ujungna”. “Si boru puas si boru bakkara, molo dung puas sae soada mara”. “Gala-gala sitekluk telluk mardagul-dagul, molo adong na sala manat mangapul-apul”. “Molo ias sian losung ias ma di anduri” dan lain-lain. 

Bahkan leluhur Batak-Toba menitahkan jangan mewariskan perselisihan, permasalahan, persoalan terhadap keturunan seperti ungkapan mengatakan,”Ndang paguguthonon na so sira tu ianakhon”. Titah ini merupakan larangan tegas agar tidak mewariskan dosa warisan atau silsilah (baca: pateanhon dosa marsundut-sundut manang tarombo) yang menjadi persoalan sepanjang sejarah. 

Hosom adalah sifat pembenci, pendendam ataupun sifat bermusuhan. Sedangkan orang Batak, khususnya Batak-Toba bukanlah tipe pembenci, pendendam atau gemar bermusuhan walaupun dalam melontarkan kata-kata terkesan keras bahkan kasar. Buktinya, Batak-Toba sangat mudah berinteraksi dengan komunitas-komunitas lain karena memiliki sifat-sifat solider dan bersahabat bukan sekadar kamuflase. 

Andaikan terjadi pergesekan atau perbenturan, bila telah diselesaikan dengan tuntas tidak memiliki dendam berkepanjangan (dendam kesumat) sebagaimana dimiliki suku lain. Artinya, rekonsiliasi hubungan semula pulih kembali seperti sediakala. Karena itu lah ada kearifan lokal Batak-Toba “Tampulon aek do halak na mardongan tubu”. Arinya, hubungan kekeluargaan serta kekerabatan tidak pernah putus selama generasi masih tetap berlanjut sepanjang masa. 

Harus pula dipahami bahwa setiap komunitas suku bangsa di atas dunia ini secara personal ada memiliki konsep diri negatif dan konsep diri positif, tetapi menjeneralisasi sifat personal menjadi gambaran sifat komunal sangat keliru besar, berbahaya serta sangat menyesatkan. Sebab perilaku manusia bukan mutlak ditentukan keturunannya (faktor internal) tetapi juga dipengaruhi lingkungannya (faktor eksternal). Ungkapan “Ndang dao tubis sian bonana” tidak lah suatu dalil mutlak absolut sebab ada keturunan orang baik-baik menjadi penjahat besar. Sebaliknya, ada keturunan orang biasa-biasa menjadi orang sangat luar biasa dan lain sebagainya. Karena itu lah Pdt. Halomoan Marpaung, STh, MPSi mengatakan,” Keberhasilan bukan karena keturunan, tetapi karena ketekunan. Sukses bukan hasil kerja keras, tetapi hasil kerja cerdas”. 

Fenomena tumbuh berkembang belakangan ini adalah “Na malo ndang tarparguruan, na oto ndang tarajaran” sehingga mudah melontarkan ide-ide tak populer semata-mata dilatari “kelatahan” saja. Akibatnya, dalil-dalil, istilah-istilah, idiom-idiom serta simbol-simbol tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Sementara, apabila dalil-dalil, istilah-istilah, idiom-idiom serta simbol-simbol keliru itu dianggap suatu kebenaran akan merusak kesejatian, kemurnian pranata baku ditengah-tengah masyarakat, bangsa maupun negara.  

Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert (1976:42-43) ada empat tanda orang yang memiliki konsep diri negatif. Pertama, ia peka terhadap kritikan. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah atau naik pitam. Bagi orang ini, koreksi seringkali dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam komunikasi, orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai justifikasi atau logika yang keliru. Kedua, orang yang memiliki konsep diri negatif, responsif sekali terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Buat orang-orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya. Bersamaan dengan kesenangannya tehadap pujian, mereka pun bersikap hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela, atau meremehkan apa pun dan siapa pun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain. Ketiga, orang yang konsep dirinya negatif bersikap hiperkritis, cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan. Karena itulah ia beraksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ia tidak akan pernah mempersalahkan dirinya, tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak beres. Keempat, orang yang konsep dirinya negatif, bersikap pesimis terhadap kompetisi seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya. 

Sedangkan  menurut D.E. Hamachek  ada  11  karateristik orang yang mempunyai konsep diri positif,  antara lain:
1.                  Ia meyakini betul-betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya, walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tetapi, dia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.

2.                  Ia mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan, atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.

3.      Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang telah terjadi waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi waktu sekarang.

4.      Ia memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.
5.      Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga, atau sikap orang lain terhadapnya.

6.      Ia sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling bagi orang-orang yang ia pilih sebagai sahabatnya.

7.      Ia dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, dan menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.

8.      Ia cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.

9.      Ia sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan akan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari sedih sampai bahagia, dari kekecewaan yang mendalam sampai kepuasan yang mendalam pula.

10. Ia mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan, atau sekadar mengisi waktu.

11.             Ia peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima, dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain. (Brooks dan Emmert, 1976:56/Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc, 2007).

Konsep-konsep diri positif dan negatif dimiliki setiap personal suku bangsa di atas jagat raya ini sehingga tidak elegan dijadikan alat justifikasi untuk menjeneralisasi sebagai sifat komunitas tertentu, termasuk pada Batak-Toba sebagaimana dilontarkan pihak-pihak tak bertanggung jawab selama ini.

Stigma negatif itu harus ditolak Batak-Toba melalui perilaku-perilaku unggul ditengah-tengah masyarakat, bangsa maupun negara sebab Batak-Toba beradat dan beradab.

Teal. 

Teal adalah sifat, sikap petantang-petenteng yang cenderung dilatari kesombongan diri ataupun keangkuhan pribadi. Sifat serta sikap demikian tentu dimiliki diri personal dari seluruh suku bangsa di atas dunia ini. Tetapi sifat-sifat atau sikap pribadi dari suatu komunitas tidak boleh dijadikan justifikasi suatu suku bangsa memiliki hal serupa. Penjeneralisasian atas sifat atau sikap bersifat pribadi menjadi sifat atau sikap komunal adalah asumsi dangkal dan keliru. 

Angkuh, sombong, patentengan, menganggap segala sesuatu enteng adalah cerminan sifat super ego serta percaya diri berlebihan yang merupakan sifat buruk melekat pada diri manusia. Percaya diri berlebihan (over comfidence)  akan membuat seseorang bertindak sesuka hati (over acting) atau “Teal”. Ada juga orang memiliki sifat angkuh, sombong dan patentengan tanpa ada suatu kebanggaan dimiliki. Inilah yang disebut “Teal so hinallung”. Dan orang seperti itu sering disebut “parhata manggang” yakni sifat hiperbola atau melebih-lebihkan sesuatu obyek diluar fakta empirik. 

Kata “Teal” tidaklah bermakna apa-apa karena kata-kata tidak bermakna; oranglah yang memberi makna. Artinya, seandainya orang Batak-Toba tidak memaknai kata “Teal” sebagai perilaku buruk maka kata “Teal” tidaklah memiliki arti apa-apa. Tetapi ketika kata “Teal” disematkan sebagai salah satu perilaku buruk Batak-Toba justru hal itulah yang sangat berbahaya serta berdampak luas. 

Sejak Plato, John Locke, Wittgenstein, sampai Brodbeck (1963), makna dimaknakan dengan uraian yang lebih sering membingungkan daripada menjelaskan. Borbeck membagi makna pada tiga corak antara lain; Pertama, makna inferensial, yakni makna satu kata (lambang) adalah obyek, pikiran, gagasan, konsep yang dirujuk oleh kata tersebut. Dalam uraian Ogden dan Richards (1946), proses pemberian makna (reference process) terjadi ketika kita menghubungkan lambang dengan yang ditunjukkan lambang (disebut rujukan atau referent). Kedua, menunjukkan arti (significance) yakni suatu istilah sejauh dihubungkan dengan konsep-konsep yang lain. Ketiga, makna intensional yakni makna yang dimaksudkan oleh seorang pemakai lambang. Makna ini tidak boleh divalidasi secara empiris atau dicarikan rujukannya. Makna ini terdapat pada pikiran orang, hanya dimiliki dirinya saja. (Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc, 2007). 

Menjadikan sesuatu jadi kepribadian spesifik apalagi menjeneralisasi tanpa pengkajian komprehensif merupakan “arogansi intelektual” serta bisa mengacau tatanan umum. Thomas Szasz mengatakan, “Orang sering berkata tentang sesamanya, ‘Dia belum menemukan jati dirinya’. Tapi jati diri – diri kita sendiri – bukanlah sesuatu yang kita temukan. Itu adalah sesuatu yang kita bentuk”.(Carol Wade & Carol Tavris, 2007).

Elat. 

Dalam salah satu acara televisi “Empat Mata atau Bukan Empat Mata” yang dinahkodai Tukul Arwana ada salah satu istilah menarik menggoda perhatian penulis yakni “SMS” (Senang Melihat Orang Susah, Susah Melihat Orang Senang) yaitu suatu sifat cemburu, iri, sirik, dengki atau kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung, sukses dan lain sebagainya). Sifat cemburu, iri, sirik, dengki rupanya dimiliki pribadi-pribadi seluruh komunitas di atas jagat raya ini, bukan hanya Batak-Toba yang disebut “Elat”. 

Elat (cemburu, iri, sirik, dengki) adalah sebuah konsep diri negatif dari diri manusia yang bisa detemukan pada setiap komunitas di sisik bumi bukan hanya dijumpai pada satu suku bangsa tertentu sehingga pelekatan stigma negatif terhadap satu suku bangsa tertentu, misalnya menuduh Batak-Toba pemilik “Elat” sangat terlalu tendensius serta merupakan “arogansi intelektual” (baca: pamalo-malohon, papistar-pistarhon) tak bertanggung jawab.

Sifat Elat (cemburu, iri, sirik, dengki) adalah konsep diri negatif tidak mampu bersaing sehat atau bersaing sempurna (perfect competition) serta ketidakmampuan menerima, mengakui kelebihan atau keunggulan orang lain. Keberhasilan atau kesuksesan pihak lain selalu direspon negatif karena tidak mau dan rela mengakui kemampuan dan keunggulan pihak lain melebihi dirinya. Dia “senang melihat orang susah atau sebaliknya, susah melihat orang senang” (SMS) sebab tidak mampu menempatkan diri obyektif mengakui keberhasilan atau kesuksesan pihak lain. Dikala sifat cemburu, iri, sirik, dengki semakin menebal maka seseorang akan melakukan intrik-intrik untuk merusak keberhasilan atau kesuksesan pihak lain.

Dalam dunia kompetisi sehat dan sempurna diperlukan prinsip sportivitas serta keterbukaan yakni kompetisi berdasarkan kualitas kemampuan seperti kapabilitas, kredibilitas, kapasitas, serta soliditas yang dapat diukur transparan akuntabel obyektif. Dengan demikian keberhasilan dan keunggulan seseorang benar-benar berdasarkan penilaian obyektif. Tapi bagi orang memiliki konsep diri negatif serta memiliki karakteristik dogmatis atau bersikap tertutup hal demikian menjadi suatu kemustahilan. Sebab karakteristik orang dogmatis atau bersikap tertutup menilai pesan berdasarkan motif pribadi. 

Orang dogmatis tidak akan memperhatikan logika suatu proposisi, ia lebih banyak melihat sejauhmana proposisi itu sesuai dengan dirinya. Argumentasi obyektif, logis, cukup bukti akan ditolak mentah-mentah. “Pokoknya aku tidak percaya”, begitu sering diucapkan orang dogmatis. 

Setiap pesan akan dievaluasi berdasarkan desakan dari dalam diri individu (inner pressure). Rokeah menyebut desakan ini, antara lain, kebiasaan, kepercayaan, petunjuk perseptual, motif ego irasional, hasrat berkuasa, dan kebutuhan untuk membesarkan diri. Orang dogmatis sukar menyesuaikan dirinya dengan kebutuhan lingkungan.

Johari Window mengatakan,”Seringkali kita menjadi terbiasa menggunakan topeng, sehingga kita sendiri tidak menyadarinya. Orang lain sebaliknya mengetahuinya. Orang yang rendah diri berusaha jual tampang, meyakinkan orang lain tentang keunggulan dirinya, dan merendahkan orang lain. Ia tidak menyadarinya, tapi orang lain mengetahuinya. Ini termasuk daerah buta (blind area). Tentu ada diri kita yang sebenarnya, yang hanya Allah yang tahu. Ini daerah tidak dikenal (unknown area). Makin luas diri publik kita, makin terbuka kita pada orang lain, makin akrab hubungan kita dengan orang lain. (Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc, 2007). 

Orang selalu dihantui sifat cemburu, iri, sirik, dengki (baca: Elat) sulit menempatkan diri obyektif apalagi mengakui kemampuan dan keunggulan pihak lain sebagai suatu kewajaran atas prestasi kinerja. Respon negatif demikian merupakan konsekuensi konsep diri negatif dimiliki pribadi-pribadi tertentu. Sifat, sikap serta perilaku demikian merupakan cerminan pribadi yang bisa ditemui pada diri insan manusia diatas dunia ini, bukan hanya terdapat pada salah satu komunitas tertentu. Sehingga sangat keliru besar apabila ditudingkan (baca: dituhashon) pada Batak-Toba saja. 

Steven P Robinsons, PhD (2009) mengatakan, sejumlah riset ekstensif telah mengidentifikasi lima dimensi dasar yang menjelaskan variasi signifikan dalam kepribadian manusia. Lima faktor itu antara lain;

1.                  Kecenderungan keluar; Apakah Anda seorang yang extrovert (ramah, mampu bersosialisasi) atau seorang yang introvert (pendiam, pemalu) ?

2.                  Menyenangkan; Apakah Anda seorang yang sangat menyenangkan (kooperatif, terpercaya) atau kurang menyenangkan (pemarah, antagonistis) ?

3.                  Kesungguhan hati; Apakah Anda sangat bersungguh-sungguh (bertanggung jawab, terorganisasi) atau kurang bersungguh-sungguh (tidak dapat diandalkan, kacau) ?

4.                  Stabilitas emosional; Apakah Anda stabil (tenang, percaya diri) atau tidak stabil (gelisah, merasa tidak aman) ?

5.                  Keterbukaan terhadap pengalaman; Apakah Anda terbuka terhadap pengalaman baru (keatif, ingin tahu) atau tertutup (konvensional, mencari yang biasa) ? 

Senang melihat orang susah, susah melihat orang senang (SMS) seperti dikatakan Tukul adalah sifat, sikap serta perilaku buruk yang harus dibuang jauh-jauh dengan mengubah atau mengganti menjadi “Senang melihat orang sukses” (SMS) sebab kesuksesan orang lain akan berdampak positif terhadap diri kita, baik langsung maupun tidak langsung. Sebaliknya, apabila kesusahan semakin meluas di sekitar kita akan berdampak negatif terhadap diri kita, baik langsung maupun tidak langsung. 

Late. 

Late (sirik) adalah sifat atau sikap ingin merusak, menghancurkan keberhasilan, kesuksesan atau kebahagiaan pihak lain. Sifat atau sikap demikian merupakan cerminan karakter buruk seseorang akibat tidak suka atau tidak senang melihat keberhasilan yang dicapai orang lain. 

Gemar mengusik, menggangu atau merusak keberhasilan atau kebahagiaan orang lain lebih cenderung dipengaruhi otak kotor dan hati busuk yang tidak rela melihat keberhasilan atau kebahagiaan pihak lain. Berbagai intrik-intrik jahat dilancarkan untuk merusak, menghancurkan kesuksesan pihak lain, dan ketika taktik jahatnya berhasil untuk merusak atau menghancurkan pihak lain maka dia merasa puas. 

Sebagaimana telah diuraikan dibahagian lain tulisan ini sifat atau sikap demikian adalah merupakan cerminan konsep diri negatif yang dimiliki seseorang. Dia sirik terhadap capaian kesuksesan orang lain sehingga dia berusaha untuk meruntuhkan atau mengahancurkannya. Membuat pihak lain menderita adalah suatu perilaku buruk yang tidak patut dilakukan manusia beradat dan beradab. Sebab perlakuan demikian adalah tindakan jahat membuat orang lain sengsara. 

Sifat, sikap serta perilaku demikian sering dipraktekkan pada persaingan tidak sehat atau tidak sempurna. Memburuk-burukkan, memfitnah pihak lain dengan dalil-dalil subyektif didasari sifat sirik (baca: Late) sering dilancarkan kompetitor hitam untuk menjatuhkan pihak lain atau ingin mencapai sesuatu dengan merusak kompetitor lain.

Sifat, sikap atau perilaku demikian merupakan cerminan ketidakdewasaan berkompetisi dengan sehat. DR. Bruno Caporrimo mengatakan,” Kedewasaan adalah kesadaran akan kasih, tanggung jawab, pemahaman nilai, dan kemampuan mengevaluasi serta bersikap tegas”. “Kadang-kadang Anda merasa bahwa orang yang tidak dewasa selalu berusaha membuktikan sesuatu dalam semua tindakan mereka. Mereka berusaha membangun diri sendiri agar merasa layak dan aman, atau penting. Hal itu muncul karena salah satu ciri ketidakdewasaan adalah menuntut perhatian dan bukan memberikan perhatian. Orang yang dewasa menerima perhatian melalui jati dirinya dan pemberiannya, bukan melalui tuntutannya. Jika tuntutan akan perhatian atau dominasi menjadi dasar suatu hubungan, hal itu pasti disebabkan adanya ketidakdewasaan. 

Tuntutan itu dibuat berdasarkan kebutuhan yang nyata, seperti halnya orang tua menuntut anak-anak yang belum dewasa. Ketidakdewasaan selalu menunjukkan adanya tuntutan. Dalam hubungan dua orang dewasa, salah satu akan mendominasi atau membuat tuntutan jika yang satunya tidak dewasa. Namun orang yang tidak dewasa juga membuat tuntutan dan berusaha mendominasi, karena ia tidak mempunyai cara lain untuk meminta kompensasi karena ia menyadari bahwa ia tidak dewasa. Saya ingin memberikan motto yang telah saya ikuti selama bertahun-tahun: “Kurbankan hal yang baik untuk hal yang lebih baik; kurbankan hal yang lebih baik untuk yang terbaik”. Anda hanya bisa melakukan sebanyak itu untuk menjadi orang yang bisa melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan orang lain. (DR. Bruno Caporrimo, 2007). 

Sifat, sikap atau perilaku tidak dewasa bukanlah milik spesifik salah satu suku bangsa di atas dunia ini, tetapi milik seluruh insan manusia karena itu sifat sirik (baca: late) tidak hanya terdapat pada Batak-Toba sebagaimana ditudingkan pihak-pihak tak bertanggung jawab selama ini. Orang dewasa memahami mana yang baik mana yang buruk sehingga selalu menghindari diri sumber penderitaan, sengsara ataupun malapetaka terhadap orang lain.

Penutup. 

Hosom, Teal, Elat, Late (HOTEL) adalah sifat, sikap ataupun perilaku buruk yang melekat pada diri manusia di setiap suku bangsa walau dengan sebutan-sebutan berbeda dengan Batak-Toba sehingga tidak patut dan wajar ditudingkan hanya milik suku Batak, khususnya Batak-Toba. 

Sifat cemburu, iri, sirik dan dengki, tidak mau dengan suka rela menerima atau mengakui kemampuan, keberhasilan pihak lain merupakan cerminan konsep diri negatif serta ketidakdewasaan  manusia di atas planet bumi ini. Bila konsep diri negatif dan ketidakdewasaan mendominasi jiwa dan pikiran manusia maka akan sulit berpikir positif dan obyektif. Senang melihat orang susah, susah melihat orang senang (SMS) selalu mengantui seseorang yang diselimuti sifat cemburu, iri, sirik dan dengki (baca: HOTEL) karena selalu memandang segala sesuatu hanya dari dalam dirinya sendiri. 

Akan tetapi bila seseorang memiliki konsep diri positif serta dewasa maka dia selalu berikhtiar, beraksioma “senang melihat orang sukses (SMS)” sebab orang berkonsep diri positif memahami paripurna “jika ingin senang buatlah orang lain senang, jika ingin sukses buatlah orang lain sukses, jika ingin bahagia buatlah orang lain bahagia”, dan lain sebagainya. Sebab prinsip hidup Batak-Toba “Molo i sinuan ido tapuon”. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita petik. 

Oleh karena itu, pelabelan “Hanya Batak Pemilik HOTEL” harus diluruskan sebab hal itu suatu stigma negatif berdampak luas ditengah masyarakat, bangsa maupun negara. Pemberian stigma negatif seperti itu adalah “arogansi intektual” alias pamalo-malohon serta tak bertangung jawab. Batak, khususnya Batak-Toba beradat dan beradab. Sekali lagi Beradat dan beradab. 

Horas bangso Batak !!!
 Medan, 27 Juli 2012
Thomson Hutasoit.
Penulis: Direktur Eksekutif LSM Kajian Transparansi Kinerja Instansi Publik (ATRAKTIP), Wakil Sekretaris Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Sumatera Utara, Sekretaris Umum Punguan Borsak Bimbinan Hutasoit, Boru, Bere Kota Medan Sekitarnya, Wakil Sekretaris II Pomparan Toga Sihombing (PARTOGI) Kota Medan Sekitarnya, Penasehat Punguan Toga Lumban Gaol dohot Boru Sektor Helvetia Medan, Wakil Pemimpin Redaksi SKI ASPIRASI, tinggal di Medan.  

                                                                                            
                
  
               
             
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.