rangkuman ide yang tercecer

Rabu, 05 September 2012

Menilik Iklan Dato' Seri H. Syamsul Arifin, SE


Bagian Ketiga.

Orang yang tidak sombong.    

Salah satu karakter manusia paling buruk adalah sombong.

Dari berbagai rekam jejak kejatuhan para pemimpin di atas planet bumi bahwa  kejatuhan seorang pemimpin selalu diawali dengan kesombongan.

Menurut KBBI (2007) sombong adalah menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah: tabiatnya agak aneh.

Bila seseorang telah diselimuti kesombongan maka akan terpancar sifat keangkuhan, kecongkakan, takabur, membanggakan diri, membual dan lain sebagainya.

Padahal Allah SAW sangat melarang perilaku sombong dan amat murka pada para pelakunya.

Larangan bersikap sombong dijelaskan Allah SAW dalam firman-Nya:

”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Q.S. Luqman:18).

” Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung” (Q.S. Al-Israa’:37).

” Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya.

Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongka diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari Allah” (Q.S. An-Nisaa’:173).

” Maka, masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka, amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu” (Q.S. An-Nahl:29) (Akh. Muwafik Saleh, S. Sos, M.Si, 2009).

Sebagai pemimpin nomor 1 (satu) di provinsi seorang gubernur tentu tidak boleh memiliki sifat sombong agar mampu menyerap denyut, detak penderitaan rakyatnya.

Seorang gubernur tidak boleh menjadikan diri menara gading terhadap rakyat.
Jabatan gubernur tidak boleh diartikan kekuasaan an sich tetapi jabatan puncak pengabdian diri terhadap seluruh rakyat daerah sekaligus bapak rakyat yang mampu melindungi dan mengayomi tanpa kecuali.

Tetapi dikala kesombongan telah menguasai hati dan pikiran maka tali hubungan persaudaraan akan terputus sebab gubernur telah mengubah habitatnya menjadi kasta tertinggi dari rakyat yang dipimpinnya.

Padahal, ketika masa-masa pencalonan, kampanye memelas dukungan dan hak pilih rakyat tanpa membedakan tingkat intelektualitas, strata sosial, suku, agama, ras, antar golongan/SARA maupun asal-usul.

Bahkan melakukan politik transaksional seperti; bagi-bagi uang, sembako, pengobatan gratis, bantuan-bantuan sosial maupun janji-janji serta komitmen politik lainnya seolah-olah sinterklas atau dewa penolong.  

Pemberian aneka bantuan sosial tidak mustahil pula berasal dari dana-dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) ataupun dari dana lain hasil penyelewengan jabatan yang dilarang peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Orang yang sombong sangat gemar dengan aneka protokoler serta berbagai pengawalan pribadi super ketat untuk memisahkan dirinya dengan rakyat yang dipimpinnya.

Bahkan tidak mustahil pula aneka protokoler itu telah menimbulkan berbagai kerugian serta kekecewaan publik.

Dan yang tidak masuk akal, ketika terjadi suatu bencana urusan protokoler pejabat lebih diutamakan daripada upaya penanggulangan atau pemulihan dampak bencana sehingga keberadaan pejabat publik terkesan amat sangat politis dan penciteraan belaka.  

Sementara orang yang tidak sombong tidak menginginkan dan menggandrungi hal demikian sebab dirinya tidak pernah suka terpisah dengan rakyat yang dipimpinnya.

Misalnya, Presiden RI pertama Ir. Soekarno yang lebih populer dengan sebutan Bung Karno, Presiden RI keempat KH. Abdurrahman Wahid  atau Gus Dur, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Sumatera Utara EWP Tambunan, Joko Widodo (Jakowi) dan lain-lain.

Mereka-mereka ini adalah pemimpin yang tidak sombong sekalipun tampuk kekuasaan berada di tangannya sebab mereka mengabdikan diri demi rakyat dan bangsanya dengan penuh kesederhanaan, kesahajaan dalam pengabdian.

Karena itulah Pdt. Halomoan Marpaung, STh, MPSi mengatakan, Kecewa itu ”biasa”, tapi tetap memberkati meski dikecewakan, itu ”luar biasa” (Mat 5:44).

Memaafkan itu ”biasa”, tapi memaafkan meskipun disakiti berkali-kali, itu ”luar biasa” (Mat 5:40).

Bersyukur itu ”biasa”, tapi bersyukur ketika tidak punya apa-apa ”luar biasa” (2 Kor 2:14).

Marilah menjadi orang yang ”biasa-biasa” tapi memiliki sikap & karakter yang ”luar biasa”.

Orang yang tidak sombong selalu memosisikan diri ”biasa-biasa” saja tapi selalu berusaha untuk melakukan hal-hal terbaik dari dirinya sehingga seluruh pikiran dan tindakannya menjadi sangat ”luar biasa”.

Di dalam kesederhanaan dan kerendahan hati para tokoh-tokoh kesohor dunia telah mengukir sejarah yang tidak pernah lapuk di telan zaman.

Kesombongan mendatangkan kebencian, ketidaksenangan dari manusia lain serta kemurkaan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Tetapi kerendahan hati mengundang simpati, empati dari pihak lain serta berkat dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Orang sombong gemar dengan pujian, sanjungan, dan penghargaan, sementara orang rendah hati pujian, sanjungan, dan penghargaan dijadikan alat instropeksi diri.

Orang sombong selalu menganggap dirinya paling pintar, paling tahu, paling hebat sehingga segala bentuk kritik dan saran dianggap tidak berguna sama sekali.

Orang sombong memilih dan memilah siapa jadi teman, kawan, dan sahabat karena dirinya silau dengan aneka kemewahan dan kemegahan serta kekuasaan.

Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si dalam bukunya ” Bekerja dengan Hati Nurani” mengatakan, ”Sombong adalah makhluk kecil berpura-pura besar”.

Mereka mengobral kelebihan yang melekat pada dirinya dan selalu mengedepankan keakuannya.

Bahkan, di antara mereka cenderung meremehkan harkat martabat orang lain.

Tidakkah mereka sadar bahwa sesungguhnya mereka sedang dihinggapi penyakit mematikan, yaitu sombong ?

Ciri sifat sombong antara lain:

  1. Suka meremehkan orang lain.
  2. Egois dan angkuh (akuisme).
  3. Menolak kebenaran.
  4. Memilih-milih dalam bergaul.
  5. Suka membanggakan diri dan keturunan.
  6. Gila hormat dan suka dikedepankan.
  7. Jalannya dibuat-buat supaya tampak indah dan gagah.

Rasulullah SAW, juga bersabda dalam beberapa hadisnya tentang larangan sikap sombong ini, antara lain:

”Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun hanya sebesar atom.

Ada seorang laki-laki berkata: ”Sesungguhnya seseorang itu suka memakai pakaian yang bagus dan sandal/sepatu yang bagus pula”.

Beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah itu indah, suka pada keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia”. (HR. Muslim).
(Akh. Muwafik Saleh, S. Sos, M.Si, 2009).
(Bersambung)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.