rangkuman ide yang tercecer

Senin, 03 September 2012

Menilik Iklan Dato' Seri H. Syamsul Arifin, SE


Oleh : Thomson Hutasoit
Direktur eksekutif LSM Kajian Transparansi Kinerja Instansi Publik (ATRAKTIP)

Bagian Pertama.


Pendahuluan.

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke 67 (17 Agustus 2012-red) Gubernur Sumatera Utara non aktif H. Syamsul Arifin, SE penyandang gelar Dato’ Seri membuat Iklan di Harian SIB (16/8/2012) dengan kalimat,

”Bangsa ini diperjuangkan oleh para pejuang dengan persatuan, kesatuan dan bambu runcing. Sebentar lagi kita akan melakukan pemilihan di Sumatera Utara. Pilihlah pemimpin yang:
  1. Orang yang taat kepada agama.
  2. Orang yang tidak serakah.
  3. Orang yang tidak sombong.
  4. Orang yang tidak munafik. Saat butuh dekati sahabat dan rakyat. Kalau tidak butuh ditinggalkan, (lupa diri, lupa berterima kasih).

Maka marilah kita mengikuti jejak pejuang terdahulu. Modalnya persatuan dan kesatuan serta keikhlasan.

Merdeka. Merdeka. Merdeka.

Wassalam,

Dato’ Seri H. Syamsul Arifin, SE

Dato’ Seri H. Syamsul Arifin, SE yang juga menyandang Marga Silaban sehingga selengkapnya Dato’ Seri H. Syamsul Arifin Silaban, SE  pada pemilihan gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2008 berpasangan dengan H. Gatot Pujo Nugroho, ST dengan ikon ”Syampurno”.

Pasangan calon Gubsu Syampurno ketika itu menawarkan visi-misi ”Rakyat Tidak Lapar, Rakyat Tidak Bodoh, Rakyat Tidak Sakit, dan Punya Masa Depan”.

Pasangan calon Gubsu ini berhasil memenangi Pilgubsu 2008 untuk memimpin Provinsi Sumatera Utara periode 2008-2013.

Konsep besar Dato’ Seri H. Syamsul Arifin Silaban, SE membangun  Sumatera Utara mewujudkan ”Rakyat Tidak Lapar, Rakyat Tidak Bodoh, Rakyat Tidak Sakit, dan Punya Masa Depan”  terhenti ditengah jalan akibat tersandung masalah hukum ketika memangku jabatan Bupati Langkat.

Dato’ Seri H. Syamsul Arifin Silaban, SE memimpin Sumatera Utara ± 2 (dua) tahun kemudian dilanjutkan H. Pujo Nugroho, ST sebagai pelaksana tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013.

Dalam perjalanan estafet kepemimpinan Provinsi Sumatera Utara pasca non aktif Dato’ Seri H. Syamsul Arifin Silaban, SE tidak pernah luput melihat dan mengamati secara komprehensif setiap perkembangan yang terjadi di daerah Sumatera Utara, termasuk proses suksesi Gubernur Sumatera Utara periode 2013-2018 akan datang.

Sebagai Gubernur Sumatera Utara non aktif tentu sangat menarik menilik makna pesan Iklan Dato’ Seri H. Syamsul Arifin Silaban, SE dalam memilih pemimpin (Gubernur-red) Sumatera Utara periode 2013-2018 agar daerah ini tidak kehilangan tongkat kedua kalinya.

Tanpa interest subyektif makna pesan iklan tersebut sangat menarik untuk dielaborasi lebih mendalam dan lebih luas sebab makna pesan iklan Dato’ Seri H. Syamsul Arifin Silaban, SE mengandung makna paling dasar membangun persatuan, kesatuan serta kebangsaan dan keindonesiaan di provinsi Sumatera Utara.

Sebab kekeliruan serta kesalahan menentukan calon Gubernur Sumatera Utara periode 2013-2018 akan berakibat fatal terhadap perjalanan penyelenggaraan pemerintahan daerah Sumatera Utara lima tahun ke depan.

Orang yang taat kepada agama.

Orang yang taat kepada agama adalah setiap orang yang melakukan agamanya dengan baik dan benar.

Tanda-tanda orang yang taat kepada agama adalah melaksanakan perintah-perintahNya serta menghindari larangan-laranganNya.

Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Sumatera Utara (2011) dalam buku ”Kita jangan melakukan kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya dalam berbangsa dan bernegara” menyatakan ”Tanda-tanda masyarakat beriman/bertaqwa tinggi, antara lain:

  1. Masyarakat amanah.
  2. Setiap tugas dilaksanakan dengan baik dan benar.
  3. Dalam bathinnya selalu bersemayam hari esok harus lebih baik.

Orang yang taat kepada agama tentu mengetahui serta memahami tujuan hakiki agama dengan paripurna terhadap kehidupan umat manusia di atas bumi.

Pada Sarasehan Nasional Pembinaan Mental Rohani, Kabintal/Paroh Kotama Balakpus, dan Tokoh Masyarakat Sumatera Utara  28 Maret 2012 di Ruang Martabe kantor Gubernur Sumatera Utara, Franz Magnis Suseno Sj mengatakan ”Kaum agamawan harus belajar empat kelakuan dan dua sikap hati”.

Empat kelakuan adalah:

1.        Berhenti bicara jelek tentang agama/aliran/keyakinan lain. Mengritik, menyatakan apa yang tidak dapat diterima dari agama lain tentang boleh.
Tetapi menjelek-jelekkan agama lain menunjukkan kurang hormat terhadap Allah yang mengizinkan agama-agama itu ada. Kami para agamawan harus selalu bicara dengan cara yang dapat didengar dari orang dari agama yang dibicarakan. Yang boleh ditolak: kalu suatu agama/keyakinan membenarkan sesuatu yang bertentangan dengan moralitas wajar.
2.        Belajar membangun dua kemampuan hati: Meyakini kebenaran agamanya sendiri, tetapi sekaligus menghormati keyakinan-keyakinan lain.
3.        Berhenti membangun sekat-sekat pemisah antar umat beragama.
4.        Kalau hubungan sudah baik, maka dalam dialog antar agama perlu diangkat/dibicarakan bukan hanya ”ayat-ayat baik” (inklusif), melainkan juga, kalau ada ”ayat-ayat keras” (eksklusif), sambil menjelaskannya.


Dua sikap hati yang perlu dipelajari. Bicara tentang agama hanya credible apabila agamawan menunjukkan dua sikap itu.

Pertama, kerendahan hati. Orang yang bicara atas nama Allah dengan nada tahu semuanya, arogan, keras, penuh penilaian rendah terhadap mereka yang berbeda paham atau ibadatnya dengan demikian justru membuktikan bahwa ia tidak tahu tentang Allah.

Orang yang tahu tentang Allah mesti rendah hati karena ia mesti sadar betapa ia tidak memadai kalau dibandingkan dengan Allah.

Allah memang memiliki kepunahan dalam segala-galanya, tetapi manusia justru dalam segala-galanya terbatas, dengan pengetahuan dan pengertian yang terpatah-patah.

Karena itu ia harus rendah hati.

Ia tahu bahwa sebenarnya ia tidak tahu.

Bicara atas nama Allah hanya benar apabila orangnya rendah hati.

Kedua, agamawan harus bersikap hormat terhadap kebebasan orang lain.
Agamawan yang tidak menghormati keyakinan orang lain – bukan berarti: mengakuinya sebagai benar – tidak tahu tentang Allah sama sekali.

Kalau Allah mengizinkan sekian agama ada di dunia, masak ada manusia berani untuk mengutuknya.

Dalam agama tidak boleh ada paksaan.

Yang berhak memaksa adalah semata-mata Sang Pencipta sendiri.

Kalau Sang Pencipta mengizinkan pelbagai keyakinan religius dianut oleh manusia, manusia tidak boleh memaksakan keyakinan yang dimilikinya.

Itu berarti bahwa penyebaran agama harus dengan nir-paksa, dan itu juga berarti dengan nir-manipulasi, nir-pembujukan, nir-tekanan.

Bicara tentang agama harus meyakinkan, bukan manipulatif atau memaksa.

Dan di pihak lain tidak ada agamawan berhak menentukan orang lain mau melarang orang percaya maupun beribadat menurut keyakinannya sendiri.

Itu juga berlaku bagi ajaran sesat.

Apa Anda punya Roh Ilahi ?

Serahkan kesesatan itu kepada Allah.

Pemahaman paripurna tentang eksistensi diri sebagai hasil karya Tuhan Yang Maha Esa sama seperti manusia lainnya merupakan tanda-tanda Orang yang taat kepada agamanya karena tidak ada satu agama yang benar mengajarkan penyengsaraan terhadap manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Demikian juga dengan pemimpin harus mampu mendatangkan kebahagiaan terhadap seluruh rakyat yang dipimpinnya tanpa kecuali.

Gubernur Sumatera Utara adalah pemimpin seluruh rakyat Sumatera Utara sehingga calon Gubernur Sumatera Utara periode 2013-2018 harus lah Orang yang taat kepada agamanya dengan baik dan benar agar mampu menghadirkan kebahagiaan bagi seluruh rakyat Sumatera Utara tanpa kecuali.

Calon Gubernur Sumatera Utara periode 2013-2018 harus benar-benar memiliki empat kelakuan dan dua sikap hati sebagaimana disebutkan Franz Magnis Suseno SJ sehingga mampu menempatkan diri sebagai pemimpin yang menghargai pluralisme rakyat Sumatera Utara.

Gubernur Sumatera Utara bukan hanya dari, oleh,untuk kelompok atau golongan tertentu tetapi dari, oleh, untuk seluruh rakyat Sumatera Utara.

Karena itu, pesan iklan Dato’ Seri H. Syamsul Arifin Silaban, SE merupakan pesan moral dari ”Sahabat seluruh rakyat” yang pantas dijadikan landasan berpikir dan bertindak dalam memilih calon gubernur 2013 akan datang.

Sebab, Sayyidina Ali ra dalam sepuluh falsafahnya yang begitu indah mengungkapkan, yaitu:

Dosa terbesar adalah takut,
modal terbesar adalah percaya diri,
kesalahan terbesar adalah putus asa,
keberanian terbesar adalah sabar,
kebanggaan terbesar adalah kepercayaan,
keuntungan terbesar adalah anak yang saleh,
rahasia paling berarti adalah mati,
guru terbaik adalah pengalaman,
rekreasi terbesar adalah bekerja, dan
pemberian terbaik adalah partisipasi.
(Akh. Muwafik Saleh, S.Sos, M.Si, 2009).
(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.