rangkuman ide yang tercecer

Jumat, 07 September 2012

Menilik Iklan Dato' Seri H. Syamsul Arifin, SE


Bagian Keempat.

Orang yang tidak munafik.

Salah satu penyakit manusia paling berbahaya adalah mengidap sifat munafik.

Sebab menurut KBBI (2007) Munafik adalah berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya di hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua.

Degradasi karakter moral paling mengkhawatirkan era belakangan ini adalah ketidaksejajaran antara perkataan dengan perbuatan atau perlakuan alias munafik.

Seseorang bisa berbicara sangat religius akan tetapi tindak-tanduknya sangat bejat dan menjijikkan serta biadab.

Dalam tatanan kata-kata atau kalimat semua orang sangat membenci tindak pidana korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) tetapi sangat sulit menemukan orang yang benar-benar bersih dari tindakan-tindakan tercela serta melanggar hukum.

Bila diperhatikan dengan cermat bahwa bangsa ini sangat malu bila disebut tidak beragama tetapi keberagamaan belum secara nyata membuat orang malu melakukan tidakan tercela, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) serta penyelewengan amanah.

Bahkan sangat memprihatinkan sekaligus memalukan hampir di seluruh lini kehidupan berbangsa dan bernegara tindakan-tindakan sangat bertentangan dengan ajaran religius kerap dilakukan tanpa urat malu.

Sifat munafik atau keberpura-puraan yang dibungkus dengan berbagai kemahiran menggunakan kaidah-kaidah religius menjadikan seseorang bermuka
”malaikat” berjiwa ”setan” menabur angin menuai badai.

Seseorang pemimpin memiliki sifat munafik akan mendatangkan malapetaka terhadap rakyat yang dipimpinnya sebab seluruh kata-kata yang terlontar dari mulutnya hanyalah kepalsuan walau dilontarkan ala ”nabiah”.

Orang munafik selalu bermuka dua yakni lain perkataan dengan perbuatan atau perlakuan sehingga muncul pameo ”muka nabi pikiran kotor”.

Akibatnya, kepercayaan terhadap pemimpin menjadi suatu kemustahilan.

Padahal esensi kepemimpinan adalah kepercayaan sebab mustahil memimpin orang yang tidak memercayai.

Stephen P. Robbins, Ph.D (2009) seorang pemimpin harus mampu membangun hubungan saling memercayai, antara lain:

  1. Bersikap terbuka; Ketidakpercayaan berasal dari apa yang orang tidak ketahui dan dari apa yang mereka ketahui, sama banyaknya. Jagalah agar orang-orang tetap memperoleh onformasi, buatlah kriteria dengan sangat gamblang mengenai bagaimana keputusan dibuat, jelaskan alasan yang mendasari keputusan, bersikaplah terung terang mengenai berbagai persoalan, dan bukalah sepenuhnya informasi yang relevan.
  2. Bersikap adil; Sebelum membuat keputusan atau mengambil tindakan, pertimbangkanlah bagaimana orang lain akan mempersepsikannya dalam pengertian obyektivitas dan keadilan. Berikan penghargaan kepada seseorang yang memang berhak menerimanya, bersikaplah obyektif dan tidak memihak di dalam penilaian kerja, dan berilah perhatian pada persepsi keadilan dalam distribusi penghargaan.
  3. Ungkapkan perasaan Anda; Para menajer yang hanya menyampaikan fakta-fakta keras dianggap dingin dan berjarak. Jika Anda berbagi perasaan, orang lain akan memandang Anda sebagai nyata dan manusiawi.
  4. Katakan kebenaran; Kebenaran adalah bagian inheren dari integritas. Sekali Anda berbohong dan ketahuan, kemampuan Anda untuk memperoleh dan menjaga kepercayaan sangat merosot. Orang-orang pada umumnya lebih toleran terhadap pengetahuan yang mereka ”tidak ingin dengar”daripada mendapati manajer mereka membohongi mereka.
  5. Tunjukkan konsistensi; Orang menginginkan bahwa segala sesuatu dapat diperkirakan (predictable). Ketidakpercayaan muncul karena tidak mengetahui apa yang diharapkan. Biarlah nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan inti Anda memandu tindakan-tindakan Anda. Ini meningkatkan konsistensi dan membangun kepercayaan.
  6. Penuhi janji Anda; Kepercayaan mensyaratkan bahwa orang meyakini Anda dapat diandalkan. Jadi, Anda perlu memastikan bahwa Anda memegang kata-kata dan komitmen Anda.
  7. Jaga kerahasiaan; Orang-orang memercayai mereka yang bijaksana dan kepada siapa mereka dapat bersandar. Mereka perlu merasa yakin bahwa Anda tidak akan membicarakan rahasia. Jika orang mempersepsikan Anda sebagai seseorang yang membocorkan rahasia pribadi atau seseorang yang tidak dapat diandalkan, Anda tidak akan dipersepsikan sebagai layak dipercaya.

Tujuh point yang menjadi faktor membangun kepercayaan terhadap seorang pemimpin sebagaimana dikatakan Stephen P. Robbins, Ph.D inilah yang sulit ditemukan dari seseorang yang mengidap penyakit munafik.

Kepalsuan demi kepalsuan, kebohongan demi kebohongan, keberpura-puraan demi keberpura-puraan, dan aneka tindakan bermuka dua lah yang sering dipertontonkan para pemimpin di republik ini.

M.T. Zen mengemukakan, ”krisis moral semacam itu membuat nilai-nilai moral dan etika meluncur bagaikan longsoran salju (lawina) di lereng Pegunungan Alpen. Lawina itulah yang menghancurkan ”dua dunia”, antara right (benar) dan wrong (salah) serta antara good (baik) dan evil (buruk)”(Herry Tjahjono, 2002).

Kemunafikan adalah pembohongan kebenaran dan keadilan, baik  terhadap diri sendiri, orang lain, bahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Orang munafik sering membohongi hati nuraninya sendiri.

Konon lagi orang lain bahkan Tuhan Yang Maha Esa yang berada diluar dirinya.

Menurut Akh. Muwafik Saleh, S. Sos, M. Si (2009) ciri perilaku pembohong, antara lain:

  1. Saat seseorang berbohong, akan tampak dalam bahasa tubuhnya.
  2. Hati dan perasaannya akan selalu dihantui kegelisahan dan ketakutan.
  3. Kebohongan 1+1 = keterusan.

Menipu, berbohong, dan berdusta pada orang lain sesungguhnya adalah penipuan terhadap diri sendiri.

Memang, seseorang yang berbohong, seolah-olah, kebohongan itu untuk orang lain.

Padahal, dia telah membohongi dirinya sendiri, meskipun secara fitrah, dirinya tidak bisa menerima kenyataan tersebut.
(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.