rangkuman ide yang tercecer

Sabtu, 08 September 2012

Menilik Iklan Dato' Seri H. Syamsul Arifin, SE


Bagian Kelima (Habis).

Saat butuh dekati sahabat dan rakyat. Kalau tidak butuh ditinggalkan, (lupa diri, lupa berterima kasih).

Salah satu hal penting yang tidak boleh luput dari perhatian rakyat Sumatera Utara pada calon-calon Pilgubsu 2013 adalah munculnya ”sahabat-sahabat palsu” yang hanya mendekati sahabat dan rakyat saat butuh, kalau tidak butuh ditinggalkan.

Hal itu, bisa diketahui melalui pengamatan obyektif komprehensif dari para calon Gubernur Sumatera Utara periode 2013-2018 dengan membuka memori di masa lalu dari calon-calon tersebut.

Seluruh pasangan calon Gubsu 2013 menyatakan diri ”sahabat rakyat”, mendekati, mendatangi dengan sejuta kedermawanan palsu di saat-saat menjelang pemilihan gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) agar rakyat memberikan hak pilih pada pemilihan nanti.

Sahabat seperti itu adalah sahabat palsu yang hanya mendekati sahabat dan rakyat di saat-saat butuh yakni butuh dukungan suara agar bisa memenangi Pilgubsu dan memangku kekuasaan nomor satu di provinsi Sumatera Utara.

Perlu diingat bahwa sahabat palsu adalah saat butuh dekati sahabat dan rakyat, kalau tidak butuh ditinggalkan.

Sahabat palsu akan lupa diri, lupa berterima kasih ketika kekuasaan telah benar-benar berada ditangannya.

Mereka lupa diri, lupa berterima kasih terhadap kebaikan-kebaikan, dukungan  pihak lain terhadap dirinya, dan dengan serta merta membangun tembok pemisah dengan sahabat dan rakyat karena tidak dibutuhkan lagi.

Padahal, Pdt. Halomoan Marpaung, STh, MPSi mengatakan, ”Jadilah menjadi pelupa, tapi hanya untuk 2 (dua) hal saja yakni; Lupakanlah ”Kebaikan” yang kita lakukan kepada orang lain, dan Lupakanlah ”Kesalahan” orang lain kepada kita”.

Orang yang lupa kebaikan yang diberikan kepada orang lain menjadikan seseorang rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh karena tidak pernah menghitung-hitung kebaikannya terhadap orang lain.

Apa yang mampu diperbuat (kebaikan-red) selalu dimaknai merupakan suatu kewajaran serta kewajiban solidaritas kemanusiaan yang harus dilakukan.

Orang yang lupa atas kesalahan orang lain menjadikan seseorang panjang sabar, pemaaf, serta mampu menghargai harkat kemanusiaan sejati.

Sahabat sejati tercermin dari kesahajaan dan konsistensi menjalin hubungan persahabatan abadi yang bukan saja dibutuhkan saat-saat butuh, tetapi ketika tidak dibutuhkan ditinggalkan.

Oleh sebab itu, untuk mengetahui apakah calon-calon Gubernur Sumatera Utara 2013-2018 benar-benar sahabat rakyat maka perlu dilacak dari masa lalu calon bersangkutan.

Sebab, Stephen P. Robbins, Ph.D mengatakan, “Prediktor terbaik perilaku seseorang di masa depan ialah perilakunya di masa lalu”.

Artinya, bila seorang Cagubsu di masa lalu tidak pernah peduli dengan sahabat dan rakyat sulit dipercaya bila menyatakan diri sahabat rakyat ketika menjelang masa-masa Pilgubsu.

Pernyataan sahabat rakyat patut diduga suatu kamuflase politik ataupun persahabatan palsu saat butuh dekati sahabat dan rakyat, kalau tidak butuh ditinggalkan, (lupa diri, lupa berterima kasih).

Karakter seperti itu adalah karakter oportunis hanya mengenal, membutuhkan  sahabat dan rakyat ketika dibutuhkan mewujudkan kepentingan diri, kelompok maupun golongannya.

Kebaikan palsu, kedermawanan palsu, persahabatan palsu, dan kepedulian palsu akan diobral para calon oportunis untuk menyesatkan kesadaran rakyat menjelang Pilgubsu akan datang, sehingga rakyat harus cerdas, cermat untuk meneliti sahabat-sahabat palsu agar tidak terkecoh dalam menentukan pilihan pada calon Pilgubsu 2013.

Sahabat sejati tidak akan pernah meninggalkan sahabat dan rakyat ketika menderita, tapi mendukung serta mendorong sahabatnya dan rakyat dari penderitaannya melalui pemikiran dan perbuatan tanpa memperhitungkan untung rugi.

Sebab sahabat bukan hanya diperlukan saat butuh, kalau tidak butuh ditinggalkan.

Salah satu faktor menurunnya elektabilitas pemilihan adalah wanprestasi janji-janji kampanye, dimana pada saat-saat kampanye para calon presiden, gubernur,  bupati/walikota menyatakan diri peduli dengan penderitaan rakyat, tetapi ketika calon itu memenangi pemilihan semua janji-janjinya terlupakan.

Malah berubah menjadi ”monster” melalui berbagai peraturan perundang-undangan, peraturan daerah (Perda) yang mencekik leher rakyat.

Perilaku demikian mendorong tumbuhnya kecurigaan atau ketidakpercayaan  rakyat terhadap para calon sekaligus menimbulkan politik transaksional.

Rakyat berkesimpulan semua calon adalah ”pembohong” siapa yang mampu memberi uang itulah yang akan dipilih sebab semuanya sama, hanya membutuhkan rakyat pada saat pemilihan, ketika pemilihan usai rakyat ditinggalkan.

Pandangan seperti itu harus segera diluruskan melalui pengamatan, penilaian, serta penjajakan masa lalu para calon secara obyektif komprehensif.

Penutup.

Pesan moral iklan Dato’ Seri H. Syamsul Arifin Silaban, SE merupakan suara  ”nabiah” yang perlu dicamkan dan diperhatikan seluruh rakyat Sumatera Utara dalam pesta demokrasi suksesi Gubernur Sumatera Utara periode 2013-2018.

Rakyat Sumatera Utara harus mampu melepaskan diri dari subyektivitas agar mampu menerima dan memahami pesan moral Dato’ Seri H. Syamsul Arifin Silaban, SE sebagai gubernur non aktif akibat tersandung kasus hukum sewaktu menjadi Bupati Langkat.

Sebagai gubernur aktif selama ± 2 tahun memimpin Sumatera Utara dan memantau jarak jauh (dari penjara-red) perjalanan provinsi Sumatera Utara tentu memiliki penilaian tersendiri tentang Cagubsu 2013-2018 akan datang.

Penilaian Dato’ Seri H. Syamsul Arifin Silaban, SE harus pula dilihat dari sudut positif agar pesan moral “suara nabiah” melalui iklan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan RI ke 67 sekaligus himbauan mempererat persatuan dan kesatuan di Provinsi Sumatera Utara dalam pelaksanaan pemilihan pemimpin di Sumatera Utara.

Sebagai gubernur non aktif Dato’ Seri H. Syamsul Arifin Silaban, SE memesankan Pilihlah Pemimpin yang :

  1. Orang yang taat kepada agama.
  2. Orang yang tidak serakah.
  3. Orang yang tidak sombong.
  4. Orang yang tidak munafik. Saat butuh dekati sahabat dan rakyat. Kalau tidak butuh ditinggalkan, (lupa diri, lupa berterima kasih).

Pesan moral itu merupakan himbauan sekaligus peringatan kepada seluruh rakyat Sumatera Utara agar tidak salah pilih terhadap calon-calon yang bertebaran saat ini.

Semua calon gubernur Sumatera Utara (Cagubsu) 2013-2018 menyatakan diri sahabat rakyat, tatapi rakyat harus cerdas dan cermat melihat mana sahabat sejati, mana pula sahabat palsu.

Sahabat sejati tidak akan pernah meninggalkan sahabatnya ketika menderita.

Sedangkan sahabat palsu, saat butuh dekati sahabat dan rakyat, kalau tidak butuh ditinggalkan, (lupa diri, lupa berterima kasih).

Himbauan sekaligus peringatan ini merupakan hal sangat penting sehingga rakyat Sumatera Utara memperhatikan dengan seksama dalam menentukan pilihan pada pemilihan gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2013.

Medan, 25 Agustus 2013

Thomson Hutasoit.

Penulis: penulis buku Meneropong serta Mengamati Visi-Misi Gubernur Sumatera Utara H. Syamsul Arifin Silaban, SE ’ Rakyat Tidak Lapar, Rakyat Tidak Bodoh, Rakyat Tidak Sakit, dan Punya Masa Depan’, tinggal di Medan.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.